Ibu Badinah adalah seorang Guru lulusan Diploma IKIP Yogyakarta. Beliau
dilahirkan tanggal 11 April 1953 lulus kuliah dan bekerja sebagai Guru
pada umur 24 tahun (1977). Menikah pada tahun 1978 dan memiliki anak
pertama pada tahun 1979 yaitu saya Muthofar Hadi, S.Si.
Ibu Badinah mengajar di SD Pleret, kemudian pada tahun 1989 ayahnya yang
bernama Muhdini, kepala Dusun Gerselo, sejak masa revolusi kemerdekaan, meninggal Dunia. Sehingga Beliau mengasuh saya sendiri
di rumah Ibu Muhdini, sebelumnya saya sering minta ditemani Kakek saya Muhdini. Ibu Badinah pindah mengajar di SD Kretek kemudian
pindah mengajar di SMP N Pundong.
Ibu Badinah adalah seorang istri prajurit AL, yang bertugas di kapal
perang. Sehingga hanya seminggu sekali suami Ibu Badinah bertemu
keluarga di rumah.
Ibu Badinah pernah diajak tinggal bersama suami di Surabaya, namun tidak
bersedia.
Pada tanggal 27 Mei 2006 beliau sedang mempersiapkan sarapan pagi. Malam
tanggal 27 Mei, Ibu Badinah berbincang bersama dengan saya di ruang
tamu. Saya berbaring di kursi menonton TV sedangkan Ibu Badinah duduk
dikursi dimeja panjang kami di ruang tamu menulis Skripsi S1. Dan sempat saya menawaran untuk nanti bisa membantu mengetikkan.

Pada malam itu saya tidak memiliki firasat akan terjadi Gempa, hanya
malam itu saya ...(banyak) melamun..saya bergegas pamit untuk tidur lebih awal.
Namun sesampai ditempat tidur, entah mengapa air mata saya berlinang,
dan saya terasa bangga bercampur sedih.
Saya bangga karena Ibu saya yang sudah membiayai saya sampai lulus S1
dari Jur. Biologi FMIPA UNS, sekarang sudah mengerjakan Skripsi S1. Dan
saya sedih karena saya tidak bisa banyak memberikan bantuan terutama
tenaga, karena rasa sakit dari operasi keloid dibahu kiri kadang terasa
baik terkadang terasa sakit sekali.
Kemudian saya perlahan bisa tidur.
Pada pagi harinya, saya bangun namun bahu kiri saya terasa sakit sekali.
Dan saya sembunyikan dari Ibu, dan saat Ibu badinah memanggil saya
untuk bangun Sholat Shubuh saya menjawab "Iya, saya sebentar lagi
bangun"
Kemudian Ibu menyuruh saya bangun lagi, dan meminta kepada saya
membangunkan Adik saya yang paling kecil.
Ibu setelah itu ke dapur, dan sesampai di dapur sempat ada ribut kecil
dengan adik ibu Purwanti, yang juga baru bangun dan tidak lekas2 menuju
kebelakang dan sempat mendapat perintah Ibu untuk ke kamar mandi depan. Mba Purwanti meninggal dunia pada pukul 12an, di saat para korban gempa bumi yang meninggal dunia sebagian besar dibawa ke jalan depan rumah, yang kemudian dimandikan, disholatkan, dan dibawa kemakam, yang hanya sebelah barat rumah saya.
Saya merasa sedih Ibu sendirian mengurus keluarga Ibu Muhdini dan
keluarga Ibu sendiri.
Pada saat itu Bapak yang sudah purna dari TNI AL lebih dahulu pergi ke
Lampung melihat hasil Panen lahan di Lampung, dan rencananya setelah
adik saya selesai Ujian kami sekeluarga akan ke Lampung menyusul bapak.
Adik saya yang pertama sudah dapat kerja di Sukoharjo, sehingga pagi itu
tidak di rumah.
Pada saat situasi sudah hening tiba2 terdengar suara gemuruh, tempat
tidur saya goyang sebentar, dan almari saya roboh namun bisa saya
kembalikan lagi. Kemudian setelah saya berdiri sambil menahan almari
kembali gempa bumi yang lebih cepat, kemudian almari saya tinggalkan
menjatuhi meja belajar saya, dan saya berada di ruang tengah/makan
bertemu adik saya ragil.
Kemudian sempt terjadi suruh menyurh antara saya dan adek, saya menyurh
adek ke dapur membantu Ibu dan adek menyuruh saya ke dapur membantu Ibu.
Karena saya sering mengalah akhirnya saya iyakan suruhan adek saya ke
Dapur, dengan berkata "ya, sebentar lagi, kalau gempa sudah reda". Pada
saat itu kemudian sesuatu menjatuhi ubun2 dikepala saya dua kali, saya
tanya adek apa yang menjatuhi saya namun dia ttidak tahu kemudian saya
mengira itu genteng.
Kemudian adek menyuruh lagi saya ke dapur melihat kondisi Ibu dan nenek.
Belum sampai saya membuka pintu ke arah Rumah nenek menuju Dapur Ibu
dari Dapur terdengar bersuara, "Dodik kamu dengan Watik keluar melalui
pintu depan saja" kemudian saya jawab "ya (karena saya masih merasakan
bahu saya dan lemas pada saya) dan saya menjawab kepada Ibu "Ibu menepi
saya ke pinggir tembok di Utara jangan dekat yang bergenting karena
gentingnya pada jatuh".
Kemudian dengan kehendak Tuhan Allah swt saya bisa sampai di halaman
depan dan gempa bumi berhenti.
Setelah Gempa Bumi berhenti terdengar jeritan minta tolong , takbir,
istighfar, dan asap mengepul putih disekitar rumah saya.
saya bingung dan melamun apakah rumah saya saja yang roboh, belum
selesai saya melamun adek saya lari ke rumah sebelah dan masuk kerumah
itu melihat kondisi anak2 tetangga rumah yang belum keluar. Dan Ibu
mereka sudah diluar baru selesai berbelanja di warung depan rumah,
sambil berteriak "anaku-anaku dan bertakbir terus menerus"
Kemudian saya mencegah adek saya namun tidak bisa, dan setelah itu saya
mulai sadar bahwa gempa Bumi sudah terjadi, dan terdengar suara tetangga
menghampiri saya dan mengajak saya menghampiri suara yang
merintih-rintih minta tolong. Akhirnya kami berputar dari depan rumah
menuju ke barat dimana Rumah bagian barat sudah roboh dan kemudian kami
menemukan sumber suara yang ternyata setelah digali adalah Purwanti,
adek Ibu.
Melihat kondisi adek Ibu terkubur kemudian saya meninggalkan tetanggal
saya dan memintanya untuk menggalinya, sedangkan saya mencari Ibu dan
Nenek di bagian Dapur yang juga rata dengan tanah.
Saya telusuru seluruh Rumah dari Dapur hingga Depan rumah melalui Rumah
bagian barat yang roboh tidak menemukan Ibu dan nenek, namun menemukan
Byudi dan Bardi yang selamat bersembunyi di bawah kasur besi peninggalan
Bapak Muhdini, namun Bardi terluka dan mengeluarkan darah.
Kemudian saya mencari lagi Ibu dan nenek sampai kedepan, dan saat itu
Bayudi mengingatkan listriknya kemudian saya minta untuk mencabut
sekring listrik sedangkan Bardi saya suruh mengambil obat Betadin di
ruang tamu (rumah timur) yang tidak roboh namun tidak ketemu.
kemudian saya diberitahu Ibu sudah ditemukan, dan kemudian saya mengajak
tetangga (Sdr. Sutawan) untuk membawa Ibu dengan sepeda motor ke Rumah Sakit trdekat,
namun sudah tidak tertolong.
Kemudian saya memilih kembali kekampung dan meneruskan pencarian nenek.
Saya masih berharap ibu masih hidup dan nenek juga ditemukan masih hidup
namun semuanya sudah meninggal. Dan saya berbohong kepada adek bahwa
Ibu tidak apa2 dan sekarang kamu ikut saja mengungsi nanti saya cari.
Setelah kejadian gempa hari itu Sri Sultan HB X memberikan kenaikan
pangkat kepada Alm Ibu Badinah dan memberikan gelar Anumerta.
Allahumaghfirlahum war khamhum wa'afihi fa'fu'anhum
Allahumalatakhrimnaajrohum walataftinaba'dahum waghfirlanawalahum
semoga keluarga yang masih hidup diberi sabar, tambahan iman dan menjadi orang2 sholeh dan sholehah
aaamiin.