Saturday, 16 October 2010

Profil Sholahuddin Al Ayubi


“Saladin Sang Raja Mesir” (Saladin, King of Egypt) adalah julukan baginya. Julukan yang mejadi symbol kekuasaannya. Saladin adalah sebuah nama yang tak bisa lepas dari sejarah perang salib, perang yang begitu menggemparkan dunia. Perang besar merebutkan kota suci Jerusalem, Kota suci bagi semua agama samawi. Kota yang di dalamnya terdapat masjid Al Aqsho, juga kota suci ketiga bagi umat islam selain Mekah dan Madinah. ratusan tahun dibutuhkan untuk mengakhiri badai peperangan ini. Beribu bahkan berjuta jiwa melayang menjadi korban dalam perang tersebut. Raymond d’Agilles, bangsawan perancis yang juga termasuk salah satu pemimpin pasukan salib, melihat dengan mata kepala sendiri dan menuliskan bahwa saat terjadi pembantaian terhadap umat islam pada tahun 1099 M, genangan darah di masjid melengkung itu mencapai setinggi lutut, dan mencapai tali kekang kuda. Sekitar 70.000 jiwa penduduk muslim dibantai habis-habisan oleh tentara salib saat itu. 

Kaum Kristen barat dirangsang kearah kegilaan agama oleh Peter sang pertapa untuk menghancurkan islam dan membebaskan tanah suci Jerusalem. Hallam, seorang sejarawan lebih lanjut menuliskan:”Segala cara dan alat digunakan untuk merangsang tumbuhnya kegilaan yang mewabah. Pada masa itu kalau ada tentara salib yang memikul tiang salib, maka ia berada dalam keamanan dan terbebas dari semua pajak, sekaligus mendapat kebebasan untuk melakukan perbuatan dosa.” Peter sang pertapa adalah otak dari semua kegilaan yang dilakukan pasukan salib. Dalih misi agama yang menjadi emban telah mereka kotori dengan berbagai perbuatan asusila. Pembunuhan, pemerkosaan, dan berbagai penganiayaan mengahampiri setiap muslim yang bertemu dengan tentara salib.

Perang salib terjadi dalam beberapa gelombang, namun baru pada gelombang kelima pasukan salib dapat menuai keberhasilan setelah mereka menaklukkan bagian terbesar dari Syria dan Palestina, termasuk kota Jerusalem. Kemenangan itu membuat pasukan salib semakin brutal. Pembantaian habis-habisan mereka lakukan terhadap kaum muslim, bahkan anak kecil, orang tua, dan wanita turut menjadi korban,kaum yang tak berdosa, tak pernah mengenal apa arti peperangan. Jumlah nyawa muslim yang mereka renggut pun tak hanya dalam hitungan jari, jauh lebih banyak ketimbang pembantaian yang pernah dilakukan Jengish Khan atau Hulagu Khan, kaisar Mongol.

Tak hanya manusia yang jadi korban. Saat pasukan salib menduduki kota Antioch Syria, kota yang tengah berkembang pesat dalam dunia pendidikan, mereka juga membakar perpustakaan Tripoli yang memiliki koleksi buku sekitar 3 juta jilid buku. Semua kegilaan dan kebrutalan itu mencapai puncaknya saat pasukan salib mendapat dukungan dari raja-raja Jerman dan Perancis serta raja Richard dari inggris yang berjuluk ”The Lion Heart” (si hati singa). 

Saat puncak kebrutalan itulah Allah menampakkan kekuasaannya dengan melahirkan seorang panglima besar pembebas kota Jerusalem. Dialah Saladin. Saladin lahir dengan nama Salahudin Yusuf Ibn Ayyub di Tikrit, Irak dekat Sungai Tigris pada tahun 1138 M. Ayahnya bernama Najmuddin Ayyub, berasal dari keluarga kurdi yang tinggal di dekat danau Fan. Ayah Saladin bersama pamannya, Asaduddin Syirkuh meninggalkan kampung halamannya dan pindah ke daerah Tikrit (Irak), tempat di mana sang panglima besar Saladin di lahirkan. Dari ayah dan pamannya inilah Saladin belajar menjadi seorang ksatria tangguh. Apalagi pamannya, Asaduddin Syirkuh adalah seorang panglima perang tangguh yang selalu mendapat kepercayaan memimpin pasukan raja Syiria, Nuruddin Mahmud untuk mengusir tentara salib dari Syiria dan Mesir.

Setelah berguru ilmu militer pada pamannya, ia dikirim ke Mesir untuk menghadang perlawanan Khalifah Fatimiyah pada tahun 1160 M. Kesuksesannya dalam misi ini membuat pamannya duduk sebagai wakil di Mesir pada tahun yang sama. Setelah belajar dari ayah dan pamannya, Ia dikirim ke Damaskus, Suriah, untuk menimba ilmu pada Raja Nuruddin (Nureddin). Selama sepuluh tahun ia berguru, ia sudah mahir dan lihai menjadi seorang panglima perang.

Tahun 1181 M saladin telah memegang tampuk kekuasaan di Damaskus setelah wafatnya raja Nuruddin dan putra mahkota Malikus Salih yang sebelumnya sempat mengasingkan diri ke Aleppo akibat pengaruh dan desakan dari keluarganya sendiri terutama Gumusthagin. Saladin menikahi janda Nuruddin dan menaklukkan dua kota penting Aleppo dan Mosul. Namun ia menjadi penguasa yang bersahaja. Sedapatnya, ia selalu menghindari pertumpahan darah, apalagi darah warga sipil. Misalnya, ia masih belum bereaksi saat Raynald of Chatillon mengusik aktivitas perdagangan dan perjalanan ibadah haji di Laut Merah, wilayah yang menurut Saladin harus selalu menjadi wilayah bebas. Ia sadar bahwa perdamaian lebih baik ketimbang permusuhan yang tiada akhir. Dalam setiap kesempatan Saladin selalu berpesan pada pasukannya; ”Minimalkan pertumpahan darah, dan jangan melukai wanita dan anak-anak!”. Saladin juga melakukan genjatan senjata dengan tentara salib yang dipimpin Raja Frank dari Jerman. Kebijakan Saladin ini  disambut baik oleh umat muslim, mereka begitu menjaga perdamaian yang telah mereka sepakati. Beda halnya dengan pasukan salib, baru beberapa saat perjanjian itu disepakati, mereka telah lalai. Dibawah kepemimpinan Renauld (Reginald) mereka membantai sekelompok kafilah muslim yang melintas di markas mereka.

Pelanggaran perjanjian ini membuat Saladin marah, ia tak rela harga diri umat islam diinjak-injak. Saladin segera menyusun kekuatan, dengan strategi yang jitu saladin mampu menjebak pasukan salib di dekat bukit Hittin. Kemenangan pun dapat ia raih tanpa memberi kesempatan sedikitpun pada tentara musuh untuk melakukan konsolidasi sehingga Saladin dapat menguasai sejumlah kota seperti Nablus, Jericho, Ramallah, Caesarea, Asruf, Jaffa, Beirut, dan Ascalon.

Perhatian Saladin dan pasukannya kemudian dipusatkan pada kota Jerusalem yang saat itu dikuasai tidak kurang dari 60.000 pasukan salib. Serangan demi serangan yang dilancarkan Saladin dengan berbagai strategi handal membuat pasukan salib menyerah pada akhir tahun 1187 M.

Jatuhnya Jerusalem ke tangan islam ini membuat kaum Kristen marah dan semakin kacau balau. Raja Jerman, Inggris dan Prancis segera menyusun kekuatan guna menuntut balas dengan membentuk pasukan gabungan. Pasukan gabungan itu akhirnya diberangkatkan di bawah kepemimpinan Raja Richard si hati singa dari Inggris. Mereka mengepung kota Akra selama beberapa bulan hingga akhirnya pasukan saladin menyerah dengan syarat tak satupun dari umat islam boleh dibunuh. Saladin menjanjikan 200.000 keping emas sebagai gantinya, jumlah yang dianggap cukup membanggakan. Namun, ketika jaminan pembayaran itu terlambat, tanpa pikir panjang semua penduduk Akra dibantai tanpa sisa oleh pasukan gabungan salib. 

Kebengisan Raja berhati singa ini kembali membangkitkan kemarahan Saladin. Segera ia pun memimpin pasukannya untuk mengadakan serangan balasan kepada pasukan gabungan Kristen. Demi menegakkan kalimat Allah dan menjaga kesuciannya. Sepanjang garis pantai 150 mil dalam sebelas kali pertempuran pasukan Saladin mampu memporak-porandakan pasukan gabungan. Pada bulan September tahun 1192 M perdamaian pun tercapai. Pasukan salib meninggalkan medan perang dengan kekalahan yang begitu menyakitkan. Dari 600.000 pasukan yang dikirim, hanya 100.000 pasukan yang kembali ke Eropa.

Saat situasi Jerusalem semakin kondusif dan mulai menunjukkan perkembangan, terdengar kabar dari Eropa bahwa raja Richard si hati singa mengalami sakit keras. Tidak seperti lazimnya orang biasa, mendengar musuhnya jatuh sakit Saladin merasa iba, hatinya tergerak untuk menjenguk musuh yang selama ini telah membantai ribuan pasukannya. Saladin pun bergegas ke Inggris untuk menjenguk sekaligus mengobati raja Richard. Sebab, saladin tak hanya menjadi panglima perang yang tangguh, ia juga seorang tabib yang mahir. Dengan memakai baju khas inggris berikut topeng wajah Saladin menemui raja Richard. Setelah pengobatan itu, betapa terkejutnya raja Richard saat baju dan topeng itu ditanggalkan dari tubuh Saladin. Raja Richard berkata;”Mengapa engkau tak membunuhku Saladin? Padahal selama ini aku telah memusuhimu?”. Dengan penuh sahaja Saladin menjawab;” Agamaku melarang membunuh musuh yang dalam keadaan lemah.” Jawaban yang tulus dari orang yang memegang teguh ajaran agamanya. Tak tercampur bias-bias nafsu di dalamnya. 

Sejak saat itu saladin mengabdikan hidupnya untuk memajukan kehidupan umat muslim dengan membangun sarana-sarana kehidupan yang diperlukan. Saladin wafat pada tanggal 4 Maret 1193 M. hanya ikat kepala dari baja, kuda, satu dinar, dan 36 dirham uang yang ia tinggalkan sebagai warisan. Seluruh harta kekayaan saladin telah banyak disumbangkan untuk kesejahteraan umat islam.

Nama Saladin harum di seantero dunia hingga kini. Bukan hanya kalangan Muslim, kalangan non muslim juga sangat menghormatinya. Satu yang dicatat dalam buku-buku sejarah; ”ketika pasukan Salib menyembelih semua Muslimin yang ditemui saat mereka menaklukkan Jerusalem, Saladin memberikan amnesti dan kebebasan bagi kaum Katolik Roma begitu ia menaklukkan Jerusalem.
 
Berikut sejarah kehidupan Sultan Saladin dari tahun ke tahun:
1138: Lahir di Tikrit, Irak, sebagai putra dari pimpinan kaum Kurdi, Najmuddin Ayub.
1152: Mulai pekerja sebagai pelayan pimpinan Suriah, Nuruddin.
1164: Mulai menunjukkan kepiawaiannya dalam bidang strategi militer dalam perang melawan pasukan Salib di Palestina.
1169: Saladin menjadi orang kedua dalam kepemimpinan militer Suriah setelah pamannya, Shirkuh. Shirkuh menjadi wakil di Mesir namun meninggal 2 bulan kemudian. Saladin menggantikannya. Namun karena kurang ada respons dan dukungan dari penguasa, ia kembali ke Kairo yang menjadi pusat kekuatan Dinasti Ayyub.
1171: Saladin menekan penguasa Fatimi dan menjadi pemimpin Mesir dengan dukungan kekhalifahan Abbasiah. Namun tidak seperti Nuruddin yang segera ingin menggempur pasukan Kristen, Saladin cenderung lebih menahan diri. Inilah yang membuat hubungan antar keduanya merenggang.
1174: Nuruddin meninggal. Saladin menyusun kekuatan.
1175: pemimpin pembunuh Syria melakukan dua usaha pembunuhan terhadap saladin, namun usaha itu gagal.
1176: Saladin mengepung benteng Masyaf, markas Rashideddin. Setelah beberapa minggu, Saladin  tiba-tiba menarik pasukannya dan meninggalkan benteng secara damai.
1181 : Saladin memegang tampuk kekuasaan di Damaskus setelah wafatnya raja Nuruddin dan putra mahkota Malikus Salih.
1183: Penaklukan kota di utara Suriah, Aleppo.
1186: Penaklukan Mosul di utara Irak.
1187: Dengan kekuatan baru, menyerang Kerajaan Latin Jerusalem dengan pertempuran sengit selama 3 bulan.
1189: Perang Salib III meluas di Palestina setelah Jerusalem di bawah kontrol Saladin.
1192: Menandatangani perjanjian dengan King Richard I dari Inggris yang membagi wilayah pesisir untuk Kaum Kristen dan Jerusalem untuk Kaum Muslim.
1193: Meninggal pada tanggal 4 Maret di Damaskus tidak lama setelah jatuh sakit.

Disarikan dari:
Alan K Bowman, Egypt After Pharaohs 1986
RA Gunadi & M Shoelhi, Dari Penakluk Jerusalem Hingga Angka Nol. Republika 2002

Saturday, 25 September 2010

Tanaman Neraka itu Bernama Tanaman Kebohongan

Tanaman Kebohongan
Seperti umumnya dalam taksonomi tanaman, tanaman ini jenisnya bermacam-macam. Dapat dibedakan berdasarkan cara pembiakannya yaitu dengan penyerbukan, dengan stek, dengan biji ataupun secara okulasi maupun kultur jaringan. Dalam pembiakannya tanaman ini sangat tergantung kepada situasi atau lingkungan, dan juga manusianya.

Selain dari cara pembiakannya tanaman kebohongan juga dibedakan berdasarkan fungsinya sebagai tanaman, ada jenis tanaman kehohongan jenis tanaman hias, tanaman perdu, pohon berbuah, semak, rumput, dan lain-lain.

Jangan tanam tanaman ini karena akan memakan harta, waktu dan tenaga, untuk mengembangbiakkannya, sedangkan fungsinya menjadi tidak ada/tidak berguna, meskipun dinamakan tanaman hias dan laku terjual Jutaan rupiah sekalipun.

Mari tanam tanaman kejujuran yang bisa menghiasi rumah dan pemilik rumah, baik dunia maupun di surga.

(Dodi Muthofar Hadi)

Tuesday, 14 September 2010

Teori “Titik Ketemu Titik” dari Film Sang Pencerah KH Ahmad Dahlan


Hari demi hari, Kyai Ahmad Dahlan mempelajari arah kiblat masjid yang ada di Indonesia. Dia mendapatkan arah kiblat masing-masing masjid berbeda, sedangkan menurutnya arah kiblat orang sholat di Kauman adalah serong 150 dari arah barat ke utara (berada pada arah barat laut).
Di Film tersebut dia membuat sebuah garis dari dua titik antara Makkah dan Kauman, dan di dapat kan sudut yang terbuat adalah 150 arah barat laut.
Dan gambaran itu kurang lebih adalah seperti ilustrasi di bawah. Di mana titik di Makkah yang tidak berubah, dihubungkan dengan titik-titik di Indonesia sesuai letak masjid masing-masing, dan kurang lebih di dapat arah sholat ke arah Ka’bah dari Indonesia (Kauman) adalah serong 150 ke utara dari arah barat, yang sebelumnya Sholat orang Indonesia mengarah ke Barat, termasuk di Masjid Agung Yogyakarta yang terletak di Kauman.
Hal tersebut berdasarkan peta, namun jika dilihat dari peredaran matahari, bahwa Indonesia di daerah Kalimantan di Lalui oleh garis Katulistiwa, dan Makkah juga dilalui garis katulistiwa, sehingga untuk daerah Kalimantan tidak seperti di daerah Jawa.
Karena Makkah dan Kalimantan di lalui garis Katulistiwa, maka arah orang sholat/kiblat tepat ke arah Barat. Ini pendapat saya pribadi.
Dan garis merah dalam gambar itu menurut saya, saya sebut teori garis, karena masjidil Haram berbentuk persegi 4 dan sholat mereka tidak melingkar seperti yang di sekitar Kabbah, maka dari setiap dinding Kabbah dijadikan arah Kiblat untuk Sholat.
Maksud saya adalah dinding yang mengarah ke Utara, maka manusia yang ada di Utara dinding itu sholatnya menghadap ke Selatan, dinding sebelah Selatan, manusia di Selatan dinding itu menghadap Utara, dinding menghadap Barat, manusia di Barat dinding itu sholatnya menghadap Timur, dan manusia yang berhadapan dengan dinding Kabbah yang menghadap Timur maka kiblat sholatnya menghadap Barat.
Jadi yang Sholat di dalam masjid Al Haram Makkah di saat di tarik garis lurus shofnya akan berbentuk garis yang berhadapan dan sejajar dengan dinding Kabbah (seperti terlihat pada garis merah tebal dan tipis).
Dan apabila jamaah sholat yang menghadap 150 di Indonesia (Jawa) ditarik garis lurus (lurusnya shof) dan di dekatkan ke Kabbah, maka akan berbeda dengan jamaah Sholat yang ada di Masjidil Haram yang menghadap dinding-dinding Kabbah (seperti terlihat garis miring hitam di gambar).
Saya minta kearifan para pembaca, ini adalah dari pemikiran saya pribadi, jadi ada perbedaan dalam hal ini saya minta sarannya. Di saat saya tidak tahu akan mengarah kemana saya sholat maka arah matahari terbenam, ke sana saya menghadap (ke arah barat: matahari terbit dari timur, dan tenggelam di barat)
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk saya.

ORIFLAME UNIVERSITY

Blog Archive

ALAMAT IP KAMU

streetdirectory.co.id

Muthofar Hadi Sponsor Umroh/Haji

PT Armina Reka Perdana adalah salah satu agen perjalanan Haji/Umrah di Indonesia yang sudah berdiri sejak 1990. Ikuti jamaahnya dan dapatkan kuotanya, Bergabung Klik di sini.